Sabtu, 27 Oktober 2012

Melahirkan (Organisasi) Guru Kritis

Oleh: Jhon Rivel Purba

Sangat aneh dan menggelisahkan. Indikator kualitas pendidikan masih dilihat pemerintah dari sudut pandang angka-angka. Sehingga, untuk meningkatkan kualitas pendidikan, ujian nasional (UN) dijadikan sebagai standar kelulusan. Pemerintah berpandangan bahwa sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu meluluskan siswanya 100 persen dengan nilai baik.
            Dengan pandangan seperti itu, mau tidak mau, sekolah berupaya mempersiapkan siswanya agar lulus 100 persen. Caranya, siswa dilatih menjawab contoh-contoh soal yang mirip dengan soal UN. Akhirnya, arah pendidikan terjebak dalam tradisi belajar menjawab soal-soal. 
            Bukan hanya di lembaga pendidikan formal, tempat-tempat bimbingan belajar pun sibuk mempersiapkan anak bimbingannya agar lulus UN, seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN), sekolah tinggi akuntansi negara (STAN), dan calon pegawai negeri sipil (CPNS). Caranya tetap dengan melatih menjawab soal-soal.
            Jika metode pendidikan seperti ini tetap dipertahankan, maka akan berdampak buruk bagi kehidupan bangsa. Generasi muda bisa saja mampu menjawab soal-soal tapi tidak mampu menjawab persoalan. Orang bisa menjawab soal-soal adalah karena dilatih terus menghafal, bukan karena kesadaran. Sementara untuk menjawab persoalan, dibutuhkan kesadaran kritis dan analitis.
            Seseorang bisa saja menghafal berbagai isi perundang-undangan, tapi belum tentu menjiwainya. Tahu tapi tidak sadar. Bisa jadi, orang yang berada di instansi pemerintahan, lulus PNS hanya karena “pintar” menjawab ujian tertulis. Sehingga, ketika berada di kursi kekuasaan, tidak mampu menjawab persoalan. Justru membuat kebijakan-kebijakan penambah persoalan.
Menjawab Persoalan
            Sejatinya, pendidikan lahir untuk menjawab persoalan umat manusia demi kemaslahatan hidupnya. Mana lebih penting seorang siswa mampu menjawab soal UN dengan nilai 10, atau mampu menjahit, menulis, menenun, bercocok tanam, dan mengerjakan hal yang berguna bagi dirinya maupun orang lain? Tak ada guna nilai angka 10 tanpa bisa berbuat apa-apa.
            Dalam konteks berbangsa dan bernegara, beragam persoalan tiada henti menyapa kita. Kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, kerusakan lingkungan, serta persoalan lainnya harus kita jawab dengan bijak. Salah satu solusi menjawab persoalan tersebut adalah dengan mempersiapkan generasi muda yang berkualitas. Masalahnya, sistem pendidikan kita tidak mempersiapkan SDM tangguh, melainkan generasi instan “tukang hafal”.
            Persoalan sederhana, misalnya kebersihan lingkungan. Mulai dari sekolah dasar (SD), sudah diajarkan bahwa membuang sampah secara sembarangan adalah tindakan tak terpuji. Namun, lihatlah di sekitar kita sampah-sampah berserakan. Sampai-sampai persoalan sampah ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah yang tak pernah tuntas. Tingkat pendidikan seseorang juga tidak menjamin kesadaran membuang sampah pada tempatnya. Bahkan di tempat-tempat kaum intelektual, katakan di kampus, sampah-sampah menghiasi “istana” calon pemimpin bangsa ini. Itu masih contoh persoalan sederhana. Belum lagi masalah yang lebih rumit seperti kemiskinan. Hal itu menunjukkan bahwa pendidikan di negara yang telah merdeka hampir 65 tahun ini, tidak bisa menjawab persoalan.
            Metode pendidikan seperti ini tidak boleh diteruskan karena hanya akan membuat bangsa ini terpuruk dan larut dalam persoalan. Metode pendidikan yang  memanusiakan manusia (humanisasi) dan menjawab persoalan harus segera diterapkan. Metode tak manusiawi diganti dengan metode demokratis.
Hadap Masalah
            Metode pendidikan “hadap masalah” yang diperkenalkan oleh Paulo Freire, tokoh pendidikan Amerika Latin, sangat tepat untuk menggantikan metode pendidikan kita saat ini. Dalam metode ini, posisi guru dan murid adalah sebagai subjek, sedangkan objeknya adalah masalah itu sendiri. Jadi, guru dan murid bersama-sama belajar melalui hubungan dialogis menjawab masalah (persoalan).
            Reformasi pendidikan mutlak dilakukan untuk menciptakan generasi yang sadar, berkarakter, bermoral, mandiri, dan memiliki kepedulian sosial. Salah satunya dengan menerapkan metode hadap masalah. Jangan seperti sekarang, tujuannya memang meningkatkan kualitas pendidikan, tapi metode dan caranya justru bertolak belakang dari tujuan tersebut.
            Misalnya untuk menjawab persoalan kemiskinan, arahan pendidikan kita justru membunuh orang miskin. Privatisasi pendidikan telah melarang orang miskin mengecap pendidikan. Berkembangnya sekolah-sekolah favorit berstatus rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI) dengan biaya masuk jutaan rupiah serta iuran bulanan ratusan ribu rupiah, lambat laun mempersempit harapan si miskin menikmati pendidikan. Belum lagi biaya kuliah di perguruan tinggi yang semakin mahal. Hanya orang kaya dan anak pejabat yang bisa menikmati layanan pendidikan seperti itu.
            Oleh sebab itu, selain kebijakan pendidikan yang adil bagi seluruh warga negara, metode pendidikan hadap masalah sudah menjadi hukum wajib dilaksanakan. Intinya bagaimana supaya persoalan itu bisa terjawab. Itu hanya bisa jika subjek (guru dan murid) secara sadar memahami persoalan. Dalam menjawab persoalan kemiskinan (objek), guru dan siswa (subjek) hendaknya memahami akar kemiskinan sehingga proses belajar dilakukan untuk mencabut akar objek tersebut.
            Tidak hanya persoalan kemiskinan, banyak lagi persoalan yang patut dijawab. Untuk itu, hendaknya pemerintah mau belajar dari kesalahan masa lalu dan sekarang, guna masa depan yang lebih baik. Kata kuncinya adalah belajar menghadapi persoalan.
(Dimuat di Harian Medan Bisnis, 11 Mei 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar