Oleh: Jhon Rivel
Purba
Menjelang
hingga pelaksanaan pesta demokrasi (pemilihan umum dan pemilihan kepala
daerah), para politisi terlihat begitu dekat dan mesra dengan rakyat. Mereka
rajin menjumpai rakyat, bergandengan tangan dengan rakyat, merangkul dan
memeluk rakyat dengan janji-janji manis. Jalan-jalan berlubang dan berlumpur
dilalui mereka dengan semangat. Pasar-pasar tradisional yang becek disinggahi
dengan membawa janji perubahan. Intinya dalam sekejap mereka memposisikan diri
sebagai bagian dari rakyat. Seolah-olah ikut merasakan beban yang ditanggung
rakyat.
Untuk
menarik simpati rakyat, para politisi ini pun mengeluarkan jurus rayuannya
yakni janji-janji perbaikan nasib rakyat. Ada yang menjanjikan pendidikan
murah, pelayanan kesehatan untuk orang miskin, membuka lapangan pekerjaan,
membangun sarana dan prasarana, menciptakan keamanan, mempermudah pelayanan
publik, dan berbagai janji lainnya. Banyak rakyat yang hanyut dengan
janji-janji manis tersebut. Rakyat pun memutuskan untuk memilih si politisi
yang berjanji tadi. Namun apa yang terjadi?
Setelah
pesta demokrasi selesai dan ketika politisi tersebut terpilih. Sang politisi
pun mulai melirik pihak yang bisa menguntungkannya dalam segi materi (harta)
dan kekuasaan. Politisi berselingkuh dengan pihak yang dianggapnya segar,
“seksi”, dan menguntungkan. Tidak lain dan tidak bukan, si “seksi” itu adalah
pemodal/pengusaha. Politisi dan pengusaha bermain mata. Akhirnya, politisi
bercerai dengan rakyat.
Lagipula,
politisi di negeri ini kebanyakan berasal dari pengusaha, dan yang didukung
pengusaha. Politisi yang didukung pengusaha tentu memiliki kontrak-kontrak yang
saling menguntungkan. Maka tidak heran, jabatan yang dipegang politisi
digunakan untuk melncarkan usahanya untuk mencari keuntungan yang
sebesar-besarnya. Artinya, memperjuangkan kepentingan ekonomi (bisnis)
merupakan prioritas utama politisi tersebut. Meskipun begitu, memang tidak semua
politisi berwatak demikian.
Pengkhiatan
politisi ini ditandai dengan banyaknya produk kebijakan yang mengingkari
harapan rakyat dan maraknya praktik-praktik KKN baik yang dilakukan eksekutif
maupun legislatif. Semangat otonomi daerah justru semakin melahirkan politisi
bermental korup dan “penjilat”. Ujung-ujungnya rakyatlah yang menanggung beban
derita.
Rakyat
dikhianati oleh politisi yang dulunya mereka harapkan membawa angin perubahan.
Sebab para politisi membuat kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan
segelintir orang dan merugikan rakyat. Rakyat digusur, diperas, dilarang
sekolah, dijual dan dijadikan sebagai budak, diberi upah tak layak, dan hak-hak
dasarnya dirampas.
Pedagang kaki
lima dan pedagang tradisional yang dulunya berangkulan dengan politisi saat
kampanye, kini ditelantarkan. Habis manis, sepah dibuang. Barangkali itulah
pepatah yang cocok. Seperti di Medan misalnya, pedagang tradisional makin
terjepit dan dipinggirkan, apalagi dengan makin menjamurnya mini market. Selain
itu, kebakaran (dibakar atau terbakar) beberapa pasar tradisional beberapa waktu
yang lalu, semakin menambah derita rakyat kecil. Parahnya, tidak ada solusi
yang berpihak kepada mereka.
Politisi
yang berpihak kepada rakyat sudah langka di negeri ini. Mengapa? Karena mereka
bukan berasal dari rakyat. Politisi bukan berasal dari petani, buruh, nelayan,
pedagang kecil, dan kaum miskin. Di parlemen tidak ada fraksi mewakili buruh,
petani, dan pedagang kecil. Yang ada justru kebalikannya yaitu mewakili
pengusaha, tuan tanah, dan pemilik modal yang menjadikan partai politik sebagai
kendaraannya.
Tidak
mungkin orang yang tidak berasal dari rakyat akan memperjuangkan kepentingan
rakyat. Yang mungkin hanya “pura-pura” memperjuangkan rakyat. Dan tidak mungkin
bisa menyelesaikan persolan rakyat jika tidak memahami akar persoalannya.
Karena, hanya orang yang bisa memahami persoalanlah yang bisa menyelesaikannya
dengna tepat.
Maka tidak
mengherankan lagi ketika anggota DPR tampaknya hanya ingin hidup
bermewah-mewahan dari uang rakyat. Lihatlah, anggota DPR justru sibuk
memperjuangkan pembangunan gedung baru, “jalan-jalan” ke luar negeri, dan
menuntut berbagai fasilitas lainnya. Padahal, kinerja mereka sangat jauh dari
yang diharapkan. Sehingga banyak kalangan menilai bahwa kinerja dan kualitas
anggota DPR periode 2009-2014 lebih hedonis dari periode sebelumnya.
Sialnya, tidak sedikit
anggota wakil rakyat yang absen saat sidang paripurna. Kalau pun datang pada
saat rapat, beberapa anggota DPR hanya duduk dan diam bahkan tertidur, serta
asyik dengan keinginan sendiri seperti mengutak-atik ponsel dan menonton video
porno saat sidang paripurna berlangsung. Bahkan masih ada anggota DPR (pada
umumnya dari kalangan artis) yang hingga hari ini belum pernah membuat
pernyataan tentang persoalan rakyat.
Rakyat sudah
jenuh dengan pengingkaran politisi yang dulunya mereka percayakan. Untuk itu ke
depan, sebelum rakyat memilih pemimpinnya, rakyat harus terlebih dahulu
mengenali calon pemimpin. Mengenali latar belakang rekam jejak dan hal yang
telah dilakukan oleh calon pemimpin tehadap persoalan rakyat. Jangan
sekali-kali memilih politisi busuk yang pernah melakukan korupsi, melanggar
HAM, merusak lingkungan, pemakai narkoba, melakukan politik uang, dan yang melakukan
tindakan asusila.
Juga
jangan memilih politisi yang belum pernah mengerjakan kepentingan rakyat.
Karena ketika dia terpilih, maka dia tidak tahu berbuat bijak untuk rakyat.
Pilihlah orang sederhana, berintegritas, mempunyai kepedulian sosial,
nasionalis, dan yang mengabdi bagi rakyat.
Selanjutnya,
rakyat perlu mempersiapkan wakilnya yang setia mengabdi kepada rakyat, bukan
kepada modal dan kekuasaan. Lantas, bagaimana menghadirkan politisi harapan
rakyat tersebut? Hal ini mengingat partai politik sebagai wadah pencetak
pemimpin telah kehilangan fungsinya.
Oleh sebab itu,
sangat dinantikan lahir dan berkembangnya organisasi-organisasi rakyat yang
mandiri, independen, dan bebas dari kepentingan politik penguasa. Roda
organisasi rakyat ini harus digerakkan sendiri oleh rakyat secara kreatif
dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Intinya dari rakyat, untuk rakyat, dan
oleh rakyat.
Kehadiran
organisasi-organisasi rakyat tersebut diharapkan menghadirkan pemimpin yang
betul-betul memahami persoalan rakyat dan juga memiliki posisi tawar untuk
memperjuangkan hak-hak dasarnya sebagai warga negara. Juga mengawasi kinerja
wakil mereka nantinya yang duduk di kursi kekuasaan agar tetap bejalan di jalur
cita-cita bersama.
Organisasi
rakyat ini menjadi solusi alternatif mengingat politisi dan partai politik
sekarang tak bersahabat dengan rakyat. Karena bagaimana pun juga politisi itu
perlu diawasi. Lantas, siapakah yang mengawasinya? Tentu rakyat yang sudah
terorganisir.
(Dimuat di Harian Medan Bisnis, 27 April 2011)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar