Oleh: Jhon Rivel Purba
Libur semester
telah usai dan lembar semester baru telah dibuka pada awal tahun 2011 ini. Para
siswa pun kembali ke bangku sekolah mengikuti proses belajar seperti
sebelumnya. Bisa dipastikan, tidak semua siswa memiliki semangat dan gairah
belajar. Banyak siswa yang mengganggap bahwa sekolah adalah penjara bagi
mereka. Bagaimana tidak, para siswa selalu diposisikan sebagai objek, sementara
guru sebagai subjek. Dimana guru memposisikan diri sebagai orang yang serba
tahu, sedangkan siswa diposisikan sebagai orang yang tak tahu. Sehingga guru
harus memberitahukan apa yang diketahuinya. Paulo Freire, tokoh pendidikan
Amerika Latin, menyebut gaya pendidikan ini adalah gaya bank.
Tak ada hubungan
dialogis antara guru dengan murid, maupun sesama siswa. Kondisi ini membunuh
kreativitas siswa. Siswa hanya dipaksa menghapal berbagai ilmu pengetahuan, padahal
belum tentu memahaminya. Belum lagi ujian nasional (UN) yang akan dihadapi
siswa kelas VI, IX, dan XII, menjadi momok yang menakutkan bagi banyak siswa.
Mereka takut tidak lulus ujian.
Di sisi lain, program sertifikasi
guru yang telah dimulai sejak 2006 ternyata tidak signifikan menghasilkan guru
yang profesional. Tidak sedikit guru yang lulus sertifikasi masih menerapkan
metode mengajar yang kaku dan monoton. Tidak ada perubahan. Ujung-ujungnya,
siswalah yang terus menjadi objek dan korban pendidikan itu sendiri.
Selain itu, menjelang UN, para siswa
dipaksa mendapat les tambahan di luar jam sekolah. Anehnya, tujuannya adalah
bagaimana mempersiapkan siswa mampu
menjawab soal-soal agar lulus UN. Pihak sekolah pun bekerja sama dengan
bimbingan belajar dalam melaksanakan tes simulasi UN (try out). Mau tidak mau, siswa terpaksa mengeluarkan uang kantung
untuk biaya les dan tes ini. Uang dan energi habis hanya untuk belajar menjawab
soal-soal. Padahal, seharusnya lembaga pendidikan hadir untuk menjawab
persoalan, bukan menjawab soal-soal yang tak ada korelasinya dengan persoalan
hidup.
Dari pengalaman pelaksanaan UN
sebelumnya, terjadi kecurangan yang sistematis dan terorganisir. Dimana kunci
jawaban diberikan atau dibacakan langsung kepada siswa. Sebagai tambahan, dari
semua siswa yang saya wawancarai, semuanya mengaku mendapat kemudahan. Memang,
siswa itu senang, padahal sesungguhnya telah menjadi korban kebijakan dan
sandiwara pendidikan. Sangat sulit melahirkan siswa berkarakter dari sistem
yang tak bersih.
Bagaimanapun juga, siswa sebagai
masa depan bangsa harus diselamatkan dari sistem pendidikan yang menindas. Siswa
bukanlah objek atau robot, melainkan subjek sadar. Oleh sebab itu, pelaksanaan
sistem penididikan yang demokratis dan menjawab persoalan, adalah keharusan.
Demi siswa dan demi masa depan bangsa. (Dimuat di Media Indonesia, 10 Januari
2011)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar