Senin, 14 Januari 2013

Jangan Korbankan Siswa


Oleh: Jhon Rivel Purba

Libur semester telah usai dan lembar semester baru telah dibuka pada awal tahun 2011 ini. Para siswa pun kembali ke bangku sekolah mengikuti proses belajar seperti sebelumnya. Bisa dipastikan, tidak semua siswa memiliki semangat dan gairah belajar. Banyak siswa yang mengganggap bahwa sekolah adalah penjara bagi mereka. Bagaimana tidak, para siswa selalu diposisikan sebagai objek, sementara guru sebagai subjek. Dimana guru memposisikan diri sebagai orang yang serba tahu, sedangkan siswa diposisikan sebagai orang yang tak tahu. Sehingga guru harus memberitahukan apa yang diketahuinya. Paulo Freire, tokoh pendidikan Amerika Latin, menyebut gaya pendidikan ini adalah gaya bank.
Tak ada hubungan dialogis antara guru dengan murid, maupun sesama siswa. Kondisi ini membunuh kreativitas siswa. Siswa hanya dipaksa menghapal berbagai ilmu pengetahuan, padahal belum tentu memahaminya. Belum lagi ujian nasional (UN) yang akan dihadapi siswa kelas VI, IX, dan XII, menjadi momok yang menakutkan bagi banyak siswa. Mereka takut tidak lulus ujian.
            Di sisi lain, program sertifikasi guru yang telah dimulai sejak 2006 ternyata tidak signifikan menghasilkan guru yang profesional. Tidak sedikit guru yang lulus sertifikasi masih menerapkan metode mengajar yang kaku dan monoton. Tidak ada perubahan. Ujung-ujungnya, siswalah yang terus menjadi objek dan korban pendidikan itu sendiri.
            Selain itu, menjelang UN, para siswa dipaksa mendapat les tambahan di luar jam sekolah. Anehnya, tujuannya adalah bagaimana mempersiapkan siswa  mampu menjawab soal-soal agar lulus UN. Pihak sekolah pun bekerja sama dengan bimbingan belajar dalam melaksanakan tes simulasi UN (try out). Mau tidak mau, siswa terpaksa mengeluarkan uang kantung untuk biaya les dan tes ini. Uang dan energi habis hanya untuk belajar menjawab soal-soal. Padahal, seharusnya lembaga pendidikan hadir untuk menjawab persoalan, bukan menjawab soal-soal yang tak ada korelasinya dengan persoalan hidup.
            Dari pengalaman pelaksanaan UN sebelumnya, terjadi kecurangan yang sistematis dan terorganisir. Dimana kunci jawaban diberikan atau dibacakan langsung kepada siswa. Sebagai tambahan, dari semua siswa yang saya wawancarai, semuanya mengaku mendapat kemudahan. Memang, siswa itu senang, padahal sesungguhnya telah menjadi korban kebijakan dan sandiwara pendidikan. Sangat sulit melahirkan siswa berkarakter dari sistem yang tak bersih.
            Bagaimanapun juga, siswa sebagai masa depan bangsa harus diselamatkan dari sistem pendidikan yang menindas. Siswa bukanlah objek atau robot, melainkan subjek sadar. Oleh sebab itu, pelaksanaan sistem penididikan yang demokratis dan menjawab persoalan, adalah keharusan. Demi siswa dan demi masa depan bangsa. (Dimuat di Media Indonesia, 10 Januari 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar