Oleh: Jhon Rivel
Purba
Tahun
2010 yang lalu, delapan perguruan tinggi negeri (PTN) Indonesia masuk dalam
daftar universitas top dunia menurut survei QS
World University Rankings. Kedelapan PTN tersebut adalah Universitas Indonesia
(peringkat ke-236), Universitas Gadjah Mada (321), Institut Teknologi Bandung
(401-450), Universitas Airlangga (451-500), Institut Pertanian Bogor (501-550),
Universitas Diponegoro (601+), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (601+), dan
Universitas Brawijaya (601+). Namun, apakah peringkat tersebut menunjukkan
kualitas pendidikan kita?
Peringkat
tersebut tidak menunjukkan kualitas pendidikan kita secara nasional. Pertama,
kedelapan PTN tersebut berada di Pulau
Jawa. Itu berarti, pembangunan pendidikan masih terpusat di Jawa. Belum ada
pemerataan pendidikan. Kedua, lima dari delapan PTN yang masuk peringkat QS itu
adalas PTN yang berstatus Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Artinya, mereka yang
bisa mengecap pendidikan di sana hanya orang-orang kaya.
Kalau
kita bandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura,
perguruan tinggi (PT) kita sudah jauh tertinggal. Beberapa universitas di kedua
negara ini sudah pernah menduduki posisi puncak di tingkat Asia. Universiti
Malaya menduduki peringkat ke-4 di Asia pada 2004. National University
Singapura menduduki peringkat ke-3 di Asia pada 2009. Sementara posisi terbaik
kita hanya peringkat ke-50 yang diwakili Universitas Indonesia. Lantas, mengapa
peringkat PT kita kalah dengan kedua negara jiran itu?
Ada
pun yang dievaluasi dalam pemeringkatan universitas tersebut adalah kualitas
penelitian, rasio mahasiswa terhadap staf pengajar, kesiapan lulusan masuk
dunia kerja, publikasi staf pengajar, jumlah mahasiswa asing 2,5 persen, dan
jumlah dosen yang mengajar ke luar negeri (Kompas, 20/9/2010). Hal yang paling
bermasalah di PT kita adalah lemahnya penelitian. Padahal, penelitian adalah
salah satu isi Tri Dharma PT.
Wajah Penelitian
Tidak
ada yang membantah bahwa wajah penelitian di negeri ini lesu. Meskipun hampir
semua lembaga pendidikan tinggi memiliki
lembaga penelitian, tapi lembaga penelitian itu tampaknya bisu. Punya
nama, punya gedung, tapi miskin karya. Mengapa bisa demikian? Tidak lain dan
tidak bukan, karena penyelenggara pendidikan (pemerintah) selama ini kurang
mendorong tumbuhnya semangat meneliti di dunia akademisi. Barangkali pemerintah
belum menyadari betapa pentingnya penelitian sebab mereka bukan
berlatarbelakang peneliti.
Fasilitas
pendidikan yang mendukung penelitian, seperti perpustakaan dan laboratorium,
masih minim. Buku-buku yang tersedia di perpustakaan sangat terbatas, jarang
melakukan penambahan buku. Juga, masih banyak PT yang memberikan pelayanan
perpustakaan dengan menggunakan sistem manual. Selain itu, laboratorium-laboratorium
juga masih banyak yang menggunakan peralatan yang sudah usang. Bagaimanapun
juga, tanpa fasilitas pendukung yang memadai maka penelitian tetap lesu.
Lebih
parahnya, tidak sedikit perpustakaan yang diabaikan. Penelantaran Pusat
Dokumentasi Sastra HB Jassin adalah salah satu contoh ketidakpedulian negara
terhadap penelitian dan pengembangan sastra di Tanah Air. Padahal puluhan ribu
dokumen sastra yang terdapat di sini memiliki nilai yang tinggi terhadap
peradaban bangsa. Secara ekonomi, pusat dokumentasi tersebut memang tidak
menguntungkan. Tapi aspek lain yang menyangkut sejarah, budaya, dan peradaban
bangsa, mempunyai nilai yang lebih tinggi.
Kembali
melihat Malaysia, negara ini sangat serius membangun perpustakaannya. Maka
tidak heran, kuantitas buku di sana sangat banyak karena ada tim yang
ditugaskan untuk mencari buku dan jaringan pemesanan buku. Sehingga buku-buku
tentang Indonesia pun tersimpan rapi di sana. Perpustakaannya dilengkapi dengan
ruang audio visual, ruang mahasiswa peneliti, ruang diskusi, dan laboratorium.
Wajar saja, banyak mahasiswa dan peneliti Indonesia yang betah belajar dan
berkarya di sana.
Meskipun
hubungan RI-Malaysia sering memanas karena masalah penganiayaan TKI di sana,
tetapi banyak peneliti Indonesia dari berbagai disiplin ilmu pindah ke lembaga
penelitian dan perguruan tinggi di Malaysia. Adapun alasannya adalah persolan
kesejahteraan dan sarana pendukung penelitian.
Sangat
sedih mendengar gaji peneliti lulusan program doktoral di Lembaga Ilmu
Pengetahun Indonesia (LIPI) tak lebih dari Rp 4 juta. Itu sangat tidak adil
dibandingkan dengan anggota DPR yang bergaji di atas Rp 40 juta, belum termasuk
tunjangan-tunjangan lainnya. Padahal dengan melihat kinerja anggota DPR
ditambah lagi dengan tuntutannya yang ingin hidup mewah, maka sungguh tak elok
rasanya. Mungkin karena itu, banyak orang yang berlomba-lomba menjadi “wakil”
rakyat. Namun, menjadi peneliti kurang diminati.
Peneliti
di republik ini belum mendapatkan ruang yang layak. Tidak dianggap sebagai pekerjaan
yang mulia. Berbeda dengan negara maju yang sangat menghargai peneliti.
Memprihatinkan, ketika banyak peneliti asing yang mengkaji segala aspek
kehidupan Indonesia. Sejarah, budaya, dan kekayaan alam Indonesia mereka teliti
dengan sudut pandangnya. Lucunya, kita belajar tentang Indonesia dari buku yang mereka buat. Tidak
mampukah anak negeri ini mengkaji sejarah dan budayanya sendiri? Saya pikir
banyak peneliti-peneliti kita yang berkualitas setara dengan peneliti luar.
Hanya saja tidak diberikan ruang berkarya di negeri sendiri.
Di
Malaysia, gaji peneliti maupun dosen minimal Rp 20 juta per bulan, belum
termasuk tunjangan perumahan, kendaraan, dan kesehatan. Sehingga peneliti asal
Indonesia yang berkiprah di sana tak bisa disalahkan juga. Selain mendapatkan
ruang lebar menumpahkan kreatifitas, mereka juga ingin hidup sejahtera.
Alasan
keterbatasan anggaran pendidikan bukanlah alasan yang masuk akal dalam melihat
persoalan ini. Anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN seharusnya mampu
menyuburkan penelitian. Persoalannya, apakah anggaran pendidikan tersebut
dialokasikan tepat sasaran dan bebas dari korupsi? Yang terpenting adalah
adanya kemauan dari sang pengambil kebijakan untuk mendorong semangat
penelitian di perguruan tinggi.
Kalau
kita jujur, banyak dosen-dosen yang jarang menghasikan karya/jurnal ilmiah,
buku, dan tulisan hasil pemikirannya. Dosen seperti ini sering disebut “dosen
pohon pisang” karena hanya berbuah satu kali. Buah yang dimaksud adalah karya
ilmiah yakni skripsi atau tesis atau desertasi. Padahal dosen seharusnya
berkarya dan mengabdi. Tidak cukup mengajar di depan mahasiswa dengan metode
monologis. Mengajar, menulis, dan meneliti adalah tugas utama dosen sebagai
bentuk pengabdiannya. Dosen yang gemar meneliti akan dengan sendirinya diikuti
oleh mahasiswa.
Oleh
sebab itu, kebijakan pendidikan hendaknya memberikan ruang penelitian serta
merangsang perguruan tinggi melaksanakan tugas mulianya. Tentu penelitian yang
berguna bagi masyarakat umum demi kemajuan bangsa.
(Dimuat di Harian Medan Bisnis, 28 Maret 2011)
KISAH NYATA..............
BalasHapusAss.Saya ir Sutrisno.Dari Kota Jayapura Ingin Berbagi Cerita
dulunya saya pengusaha sukses harta banyak dan kedudukan tinggi tapi semenjak
saya ditipu oleh teman hampir semua aset saya habis,
saya sempat putus asa hampir bunuh diri,tapi saya buka
internet dan menemukan nomor Ki Kanjeng saya beranikan diri untuk menghubungi beliau,saya di kasih solusi,
awalnya saya ragu dan tidak percaya,tapi saya coba ikut ritual dari Ki Kanjeng alhamdulillah sekarang saya dapat modal dan mulai merintis kembali usaha saya,
sekarang saya bisa bayar hutang2 saya di bank Mandiri dan BNI,terimah kasih Ki,mau seperti saya silahkan hub Ki
Kanjeng di nmr 085320279333 Kiyai Kanjeng,ini nyata demi Allah kalau saya tidak bohong,indahnya berbagi,assalamu alaikum.
KEMARIN SAYA TEMUKAN TULISAN DIBAWAH INI SYA COBA HUBUNGI TERNYATA BETUL,
BELIAU SUDAH MEMBUKTIKAN KESAYA !!!
((((((((((((DANA GHAIB)))))))))))))))))
Pesugihan Instant 10 MILYAR
Mulai bulan ini (juli 2015) Kami dari padepokan mengadakan program pesugihan Instant tanpa tumbal, serta tanpa resiko. Program ini kami khususkan bagi para pasien yang membutuhan modal usaha yang cukup besar, Hutang yang menumpuk (diatas 1 Milyar), Adapun ketentuan mengikuti program ini adalah sebagai berikut :
Mempunyai Hutang diatas 1 Milyar
Ingin membuka usaha dengan Modal diatas 1 Milyar
dll
Syarat :
Usia Minimal 21 Tahun
Berani Ritual (apabila tidak berani, maka bisa diwakilkan kami dan tim)
Belum pernah melakukan perjanjian pesugihan ditempat lain
Suci lahir dan batin (wanita tidak boleh mengikuti program ini pada saat datang bulan)
Harus memiliki Kamar Kosong di rumah anda
Proses :
Proses ritual selama 2 hari 2 malam di dalam gua
Harus siap mental lahir dan batin
Sanggup Puasa 2 hari 2 malam ( ngebleng)
Pada malam hari tidak boleh tidur
Biaya ritual Sebesar 10 Juta dengan rincian sebagai berikut :
Pengganti tumbal Kambing kendit : 5jt
Ayam cemani : 2jt
Minyak Songolangit : 2jt
bunga, candu, kemenyan, nasi tumpeng, kain kafan dll Sebesar : 1jt
Prosedur Daftar Ritual ini :
Kirim Foto anda
Kirim Data sesuai KTP
Format : Nama, Alamat, Umur, Nama ibu Kandung, Weton (Hari Lahir), PESUGIHAN 10 MILYAR
Kirim ke nomor ini : 085320279333
SMS Anda akan Kami balas secepatnya
Maaf Program ini TERBATAS .