Rabu, 13 Februari 2013

Wajah Penelitian (Negeri) Kita


Oleh: Jhon Rivel Purba

            Tahun 2010 yang lalu, delapan perguruan tinggi negeri (PTN) Indonesia masuk dalam daftar universitas top dunia menurut survei QS World University Rankings. Kedelapan PTN tersebut adalah Universitas Indonesia (peringkat ke-236), Universitas Gadjah Mada (321), Institut Teknologi Bandung (401-450), Universitas Airlangga (451-500), Institut Pertanian Bogor (501-550), Universitas Diponegoro (601+), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (601+), dan Universitas Brawijaya (601+). Namun, apakah peringkat tersebut menunjukkan kualitas pendidikan kita?
            Peringkat tersebut tidak menunjukkan kualitas pendidikan kita secara nasional. Pertama, kedelapan  PTN tersebut berada di Pulau Jawa. Itu berarti, pembangunan pendidikan masih terpusat di Jawa. Belum ada pemerataan pendidikan. Kedua, lima dari delapan PTN yang masuk peringkat QS itu adalas PTN yang berstatus Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Artinya, mereka yang bisa mengecap pendidikan di sana hanya orang-orang kaya. 
            Kalau kita bandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, perguruan tinggi (PT) kita sudah jauh tertinggal. Beberapa universitas di kedua negara ini sudah pernah menduduki posisi puncak di tingkat Asia. Universiti Malaya menduduki peringkat ke-4 di Asia pada 2004. National University Singapura menduduki peringkat ke-3 di Asia pada 2009. Sementara posisi terbaik kita hanya peringkat ke-50 yang diwakili Universitas Indonesia. Lantas, mengapa peringkat PT kita kalah dengan kedua negara jiran itu?
            Ada pun yang dievaluasi dalam pemeringkatan universitas tersebut adalah kualitas penelitian, rasio mahasiswa terhadap staf pengajar, kesiapan lulusan masuk dunia kerja, publikasi staf pengajar, jumlah mahasiswa asing 2,5 persen, dan jumlah dosen yang mengajar ke luar negeri (Kompas, 20/9/2010). Hal yang paling bermasalah di PT kita adalah lemahnya penelitian. Padahal, penelitian adalah salah satu isi Tri Dharma PT.
Wajah Penelitian
            Tidak ada yang membantah bahwa wajah penelitian di negeri ini lesu. Meskipun hampir semua lembaga pendidikan tinggi memiliki  lembaga penelitian, tapi lembaga penelitian itu tampaknya bisu. Punya nama, punya gedung, tapi miskin karya. Mengapa bisa demikian? Tidak lain dan tidak bukan, karena penyelenggara pendidikan (pemerintah) selama ini kurang mendorong tumbuhnya semangat meneliti di dunia akademisi. Barangkali pemerintah belum menyadari betapa pentingnya penelitian sebab mereka bukan berlatarbelakang peneliti.
            Fasilitas pendidikan yang mendukung penelitian, seperti perpustakaan dan laboratorium, masih minim. Buku-buku yang tersedia di perpustakaan sangat terbatas, jarang melakukan penambahan buku. Juga, masih banyak PT yang memberikan pelayanan perpustakaan dengan menggunakan sistem manual. Selain itu, laboratorium-laboratorium juga masih banyak yang menggunakan peralatan yang sudah usang. Bagaimanapun juga, tanpa fasilitas pendukung yang memadai maka penelitian tetap lesu.
            Lebih parahnya, tidak sedikit perpustakaan yang diabaikan. Penelantaran Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin adalah salah satu contoh ketidakpedulian negara terhadap penelitian dan pengembangan sastra di Tanah Air. Padahal puluhan ribu dokumen sastra yang terdapat di sini memiliki nilai yang tinggi terhadap peradaban bangsa. Secara ekonomi, pusat dokumentasi tersebut memang tidak menguntungkan. Tapi aspek lain yang menyangkut sejarah, budaya, dan peradaban bangsa, mempunyai nilai yang lebih tinggi.
            Kembali melihat Malaysia, negara ini sangat serius membangun perpustakaannya. Maka tidak heran, kuantitas buku di sana sangat banyak karena ada tim yang ditugaskan untuk mencari buku dan jaringan pemesanan buku. Sehingga buku-buku tentang Indonesia pun tersimpan rapi di sana. Perpustakaannya dilengkapi dengan ruang audio visual, ruang mahasiswa peneliti, ruang diskusi, dan laboratorium. Wajar saja, banyak mahasiswa dan peneliti Indonesia yang betah belajar dan berkarya di sana.
            Meskipun hubungan RI-Malaysia sering memanas karena masalah penganiayaan TKI di sana, tetapi banyak peneliti Indonesia dari berbagai disiplin ilmu pindah ke lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Malaysia. Adapun alasannya adalah persolan kesejahteraan dan sarana pendukung penelitian.
            Sangat sedih mendengar gaji peneliti lulusan program doktoral di Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) tak lebih dari Rp 4 juta. Itu sangat tidak adil dibandingkan dengan anggota DPR yang bergaji di atas Rp 40 juta, belum termasuk tunjangan-tunjangan lainnya. Padahal dengan melihat kinerja anggota DPR ditambah lagi dengan tuntutannya yang ingin hidup mewah, maka sungguh tak elok rasanya. Mungkin karena itu, banyak orang yang berlomba-lomba menjadi “wakil” rakyat. Namun, menjadi peneliti kurang diminati.
            Peneliti di republik ini belum mendapatkan ruang yang layak. Tidak dianggap sebagai pekerjaan yang mulia. Berbeda dengan negara maju yang sangat menghargai peneliti. Memprihatinkan, ketika banyak peneliti asing yang mengkaji segala aspek kehidupan Indonesia. Sejarah, budaya, dan kekayaan alam Indonesia mereka teliti dengan sudut pandangnya. Lucunya, kita belajar tentang  Indonesia dari buku yang mereka buat. Tidak mampukah anak negeri ini mengkaji sejarah dan budayanya sendiri? Saya pikir banyak peneliti-peneliti kita yang berkualitas setara dengan peneliti luar. Hanya saja tidak diberikan ruang berkarya di negeri sendiri.
            Di Malaysia, gaji peneliti maupun dosen minimal Rp 20 juta per bulan, belum termasuk tunjangan perumahan, kendaraan, dan kesehatan. Sehingga peneliti asal Indonesia yang berkiprah di sana tak bisa disalahkan juga. Selain mendapatkan ruang lebar menumpahkan kreatifitas, mereka juga ingin hidup sejahtera.
            Alasan keterbatasan anggaran pendidikan bukanlah alasan yang masuk akal dalam melihat persoalan ini. Anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN seharusnya mampu menyuburkan penelitian. Persoalannya, apakah anggaran pendidikan tersebut dialokasikan tepat sasaran dan bebas dari korupsi? Yang terpenting adalah adanya kemauan dari sang pengambil kebijakan untuk mendorong semangat penelitian di perguruan tinggi.
            Kalau kita jujur, banyak dosen-dosen yang jarang menghasikan karya/jurnal ilmiah, buku, dan tulisan hasil pemikirannya. Dosen seperti ini sering disebut “dosen pohon pisang” karena hanya berbuah satu kali. Buah yang dimaksud adalah karya ilmiah yakni skripsi atau tesis atau desertasi. Padahal dosen seharusnya berkarya dan mengabdi. Tidak cukup mengajar di depan mahasiswa dengan metode monologis. Mengajar, menulis, dan meneliti adalah tugas utama dosen sebagai bentuk pengabdiannya. Dosen yang gemar meneliti akan dengan sendirinya diikuti oleh mahasiswa.
            Oleh sebab itu, kebijakan pendidikan hendaknya memberikan ruang penelitian serta merangsang perguruan tinggi melaksanakan tugas mulianya. Tentu penelitian yang berguna bagi masyarakat umum demi kemajuan bangsa. 
(Dimuat di Harian Medan Bisnis, 28 Maret 2011)

1 komentar:

  1. KISAH NYATA..............
    Ass.Saya ir Sutrisno.Dari Kota Jayapura Ingin Berbagi Cerita
    dulunya saya pengusaha sukses harta banyak dan kedudukan tinggi tapi semenjak
    saya ditipu oleh teman hampir semua aset saya habis,
    saya sempat putus asa hampir bunuh diri,tapi saya buka
    internet dan menemukan nomor Ki Kanjeng saya beranikan diri untuk menghubungi beliau,saya di kasih solusi,
    awalnya saya ragu dan tidak percaya,tapi saya coba ikut ritual dari Ki Kanjeng alhamdulillah sekarang saya dapat modal dan mulai merintis kembali usaha saya,
    sekarang saya bisa bayar hutang2 saya di bank Mandiri dan BNI,terimah kasih Ki,mau seperti saya silahkan hub Ki
    Kanjeng di nmr 085320279333 Kiyai Kanjeng,ini nyata demi Allah kalau saya tidak bohong,indahnya berbagi,assalamu alaikum.

    KEMARIN SAYA TEMUKAN TULISAN DIBAWAH INI SYA COBA HUBUNGI TERNYATA BETUL,
    BELIAU SUDAH MEMBUKTIKAN KESAYA !!!

    ((((((((((((DANA GHAIB)))))))))))))))))

    Pesugihan Instant 10 MILYAR
    Mulai bulan ini (juli 2015) Kami dari padepokan mengadakan program pesugihan Instant tanpa tumbal, serta tanpa resiko. Program ini kami khususkan bagi para pasien yang membutuhan modal usaha yang cukup besar, Hutang yang menumpuk (diatas 1 Milyar), Adapun ketentuan mengikuti program ini adalah sebagai berikut :

    Mempunyai Hutang diatas 1 Milyar
    Ingin membuka usaha dengan Modal diatas 1 Milyar
    dll

    Syarat :

    Usia Minimal 21 Tahun
    Berani Ritual (apabila tidak berani, maka bisa diwakilkan kami dan tim)
    Belum pernah melakukan perjanjian pesugihan ditempat lain
    Suci lahir dan batin (wanita tidak boleh mengikuti program ini pada saat datang bulan)
    Harus memiliki Kamar Kosong di rumah anda

    Proses :

    Proses ritual selama 2 hari 2 malam di dalam gua
    Harus siap mental lahir dan batin
    Sanggup Puasa 2 hari 2 malam ( ngebleng)
    Pada malam hari tidak boleh tidur

    Biaya ritual Sebesar 10 Juta dengan rincian sebagai berikut :

    Pengganti tumbal Kambing kendit : 5jt
    Ayam cemani : 2jt
    Minyak Songolangit : 2jt
    bunga, candu, kemenyan, nasi tumpeng, kain kafan dll Sebesar : 1jt

    Prosedur Daftar Ritual ini :

    Kirim Foto anda
    Kirim Data sesuai KTP

    Format : Nama, Alamat, Umur, Nama ibu Kandung, Weton (Hari Lahir), PESUGIHAN 10 MILYAR

    Kirim ke nomor ini : 085320279333
    SMS Anda akan Kami balas secepatnya

    Maaf Program ini TERBATAS .

    BalasHapus